Biopelet

Biopelet

BiopeletBiopelet

Biopelet adalah jenis bahan bakar padat berbasis limbah biomassa yang memiliki ukuran lebih kecil dari briket (Windarwati, 2011). Bahan tambahan perekat tapioka dan sagu merupakan bahan yang sering digunakan dalam pembuatan biopelet karena mudah didapat, harganya relative murah dan dapat menghasilkan kekuatan rekat kering yang tinggi serta tidak membahayankan dalam penggunaanya. Penggunaan perekat tidak melebihi 5% karena semakin besar penambahan perekat, maka akan mengakibatkan bertambahnya kadar air pada biopelet. Hal ini akan memngurangi nilai pembakaran biopelet (Zamirza, 2009).
Saptoadi (2006) mengungkapkan bahwa proses pemampatan biomassa pelet dilakukan untuk:
  • Meningkatkan kerapatan energi bahan.
  • Meningkatkan kapasitas panas (kemampuan untuk menghasilkan panas dalam jangka waktu yang lebih lama dan mencapai suhu yang lebih tinggi).
  • Mengurangi jumlah abu pada bahan bakar.
Pelet merupakan salah satu bentuk biomassa, yang diproduksi pertama kali di Swedia pada tahun 1980-an. Pellet dapat digunakan sebagai pemanas ruang untuk ruang skala kecil dan menengah. Pellet merupakan hasil pengempaan biomassa yang memiliki tekanan yang lebih besar jika dibandingkan dengan briket dengan massa 60 kg.m3, kadar abu 1% dan kadar air kurang dari 10%).

2. Teknik Pembuatan Biopelet

Biopelet diproduksi oleh suatu alat dengan mekanisme pemasukan bahan secara terus menerus serta mendorong bahan yang telah dikeringkan dan termampatkan melewati lingkaran baja dengan beberapa lubang yang memiliki ukuran tertentu. Pertama, bahan baku yang digunakan diubah menjadi serbuk yang digaluskan dengan melakukan penyaringan menggunakan ukuran tertentu. Selanjutnya, bahan baku yang halus tersebut dicampurkan dengan menggunakan perekatdan diaduk secara merata untuk dijadikan adonan. Kedua, adonan terebut dicetak dan dipadatkan. Terakhir adalah pengeringan pada suhu tertentu hingga dihasilkan biopelet dengan kadar air tertentu. Biopelet serbuk gergajian yang dihasilkan mempunyai berbagai keunggulan dibandingkan biopelet yang dari biomassa lainnya seperti serbuk kayu sengon yang memenuhi standar mutu berdasarkan nilai kerapatan, kadar air, dan nilai kalornya (Winata A, 2013).