MenTakhsis yang Umum (‘AM)

MenTakhsis yang Umum (‘AM)

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa mayoritas ulama telah sepakat bahwa lafazh yang ‘AM itu menunjukan kepada setiap satuan yang dicakupnya, sekalipun mereka berselisih dalam hal kekuatan penunjukan dalamnya terhadap setiap yang dicakup itu; apakah qath’i atau zanny, disamping telah diterangkan bentuk perselsihan.

Lafazh ‘am itu terbagi atas dua macam, yaitu ‘am yang dapat dimasuki takhshiah dan ‘am yang tidak dimasuki takhshiah. Karena itu harus ada dalil yang menunjukkan bahwa ia benar-benar ditaksis. golongan hanafi berpendapat bahwa yang bisa mentaksis ‘am adalah lafazh yang berdiri sendiri bersama dalam suatu zaman Serta mempunyai kekuatan yang sama dilihat dari segi qath’i / zhannynya. Sebagaimana contoh adalah firman Allah:

Artinya :

“dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina”. (Qs.An- Nisaa:24)

Lafadz ‘am ini telah ditakhshish dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

لاَ تَنْكِحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَتِهَا وَلاَ عَلَى خَالَتِهَا  وَلاَ عَلىَ اِبْنَةَ اَخِيْهاَ وَلاَ اِبْنَةِ اُخْتِهاَ اِنَّكُمْ اِنْ فَعَلْتُمْ ذَلِكَ قَطَعْتُمْ اَرْحاَ مَكُمْ

Artinya :

“Seorang wanita tidak bisa dikawini bibi dari Ayahnya/bibi dari lbunya.  Dan pula dengan keponakan dari saudaranya/keponakan dari saudaranya. Sebab jika kamu berbuat itu berarti kamu telah memutuskan familimu”.

Hadits ini tergolong hadits Masyhur , yang dalam konteks ini ia sebagai contoh yang mentakhsis keumuman Al- Quran yang qath’i.

Syarat-Syarat yang mentakhsis yang ‘am ada 3 yaitu :

  1. harus berdiri sendiri
  2. harus bersama dalam massa
  3. harus sama derajatnya dengan ‘am, apakah zanny atau qath’i

Adapun contoh ‘am yang ditakhsis dalam firman Allah tentang waris :

            يُوْصِكُمْ اللهُ فىِ اَوْلاَدِكُمْ لِذَكَرِ مِثْلُ حَظِّ الأُنْثَيَيْنِ

Ayat ini memakal lafaz- lafazh ‘am, ditakhsis dengan dalil lafazh yang berdiri sendiri dan bersamaan dalam masa yaitu sabda Nabi SAW:

لاَمِيْرَا ث لِقاَتِلٍ

Artinya:

“si pembunuh itu lidak berhak mendapatkan harta warisan

Dan ditaksis lagi dengan sabda Nabi SAW :

لاَيُرِ ثُ اهلُ مِلَتَيْنِ

Artinya:

” orang yang berlainan agama tidak berhak sedikitpun memperoleh harta warisan”

Betapapun para ulama fiqih berbeda pendapat tentang banyaknya pentakhsis Serta kekuatanya, namun mereka sepakat dalam menetapakan bahwa takhsis bukan berarti mengeluarkan sebagian satuan yang ‘am (umum) setelah berada didalamnya dari segi hukum.

Sumber: https://carbomark.org/