Keumuman al-Quran dan kekhususan Hadits

Keumuman al-Quran dan kekhususan Hadits

Iman Svafi’I dan Imam Ahmad berpendapat. bahwa apabila Khabar dan ahad yang khusus, bertentangan dengan keumuman Al-Qur’an (yang di Takhsis dengan Khabar ahad) itu, maka keumuman Al-Qur’an itu tidak menunjukan pada semua satuan ynag mencakup dalam lafadz al-­Qur’an yang ‘Am itu, tetapi hanya menunjukkan pada sebagian saja.

Hal ini diaebabkan, adalah keumuman al-Qur’an itu bersifat Zhanny, sekalipun dari segi sanadnya Qath’i. Sebaliknya, adalah Khabar ahad itu bersifat Qath’i, Meskipun sanadnya Zanny.

Sedangkan menurut golongan hanafiah diaebabkan mereka itu menganggap bahwa yang ‘am itu memiliki dalalah Qath’I maka kabar­-kabar ahad tersebut tidak dapat menTakhsiskan keumuman AI-Qur’an, kecuali apabila sebelumnya memang sudah di Takhsis. Sebab mereka beralasan, yang Zhanny itu tidak dapat menTakhsis yang Qath’I, dan menurut mereka, Takhsis itu berfungsi sebagai penjelas (bayan), tetapi ia membatalkan terhadap fungsi ebagian dari ‘am. Mereka juga menegaskan, bahwa ‘am dengan pengertiannya yang umum itu berarti telah berfungsi sebagai penjelasan, jadi tidak lagi membutuhkan suatu penjelasan lain. Mereka mengambil contoh Firman Allah :

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, (Qs. Al- Maidah : 6 )

Berbeda halnya dengan pendapat golongan Syafi’I, Hanbali dan Maliki Dalam berwudhu mereka mengsyaratkan) gadanya tertib (urut-urutan) berdasarkan Hadist Nabi :

لاَيَقْبَلُ اللهُ صَلاَةَ امْرِى ءٍ حَتىَ يَضَعَ الطُّهُوْرَ مَواَضِعَهُ فَيَغْسِلُ وَجْهَهُ ثُمَّ يَدَهُ

Artinya :

“Allah tidak menerima shalatnya seseorang, Kecuali kalau die bersuci secara benar, yaitu membasuh mukanya, lalu tangannya dan seterusnya”

Hadist itu menunjukan keharusan adanya tertib dalam berwudhu. Akan tetapi golongan Hanafi mengambil dasar kewajiban berwudhu itu dari Nash ayat tersebut mereka menggap bahwa keharusan tertib yang dijelaskan dalam Hadist itu, hanya berfungsi sebagai penguat saja.

Tapi perlu diketahui, bahwa imam Maliki meskipun ia berpendapat bahwa dalalah keumuman Al-Qur’an itu bersifat Zhanny karena dilihat secara lahir, namun baginya tidak selalu keumuman AlI-Qur’an dapat ditakhsis dengan Khabar ahad. Namun terkadang, keumuman Al-Qur’an itu dapat di takhsis oleh Sunnah Ahad, sebagaimana firman Allah dalarn surat An-Nissa :

¨@Ïmé&ur Nä3s9 $¨B uä!#u‘ur öNà6Ï9ºsŒ  ÇËÍÈ

Artinya :

“Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian” (Q.S. An­-Niasa.-24)

Yang di takhsis dengan Sabda Nabi SAW.

لاَ تَنْكِحُ الْمَرْأَةُ عَلَى عَمَتِهَا وَلاَ عَلَى خَالَتِهَا

Artinya :

“Seorang wanita tidak bisa dikawini bibi dari Ayahnya/bibi dari lbunya.

Sumber: https://multiply.co.id/