Efek tarif terhadap produsen

Efek tarif terhadap produsen

Pengenaan tarif akan memberikan manfaat bagi para produsen dalam negeri yang menghadapi persaingan impor karena tarif itu merupakan pajak terhadap barang-barang produksi luar negeri. Semakin besar tarif yang dibebankan bagi para konsumen untuk membeli barang luar negeri, akan semakin banyak yang beralih

  1. Efek tarif terhadap konsumen

Beban dari pengenaan tarif terhadap konsumen diukur dan jumlahnya mungkin bisa menjadi besar. Besarnya jumlah tersebut sebagian disebabkan karena tarif membuat para konsumen harus membayar lebih banyak, baik bagi barang-barang produksi dalam negeri maupun barang impor. Pada saat tarif pertama kali dikenakan, para konsumen secara perorangan akan mencoba untuk menghindari biaya tambahan dengan lebih banyak memproduksi barang dalam negeri, akan tetapi penawaran (supply) barang yang diproduksi dalam negeri tidak mungkin dapat ditingkatkan tanpa meningkatkan biaya marginal.

  1. Efek tarif terhadap pemerintah.

Bea masuk dapat menjadi sebagai pendapatan pemerintah.

  1. Larangan Impor dan Ekspor
  1. Larangan Impor

Larangan impor adalah kebijakan pemerintah yang melarang masuknya barang-barang tertentu atau produk-produk asing (ke dalam pasar domestik) ke dalam negeri. Kebijakan larangan impor dilakukan untuk menghindari barang-barang yang dapat merugikan masyarakat. Misalnya melarang impor daging sapi yang mengandung penyakit Anthrax. Kebijakan ini biasanya dilakukan karena alasan politik dan ekonomi.

Pada dasarnya ada tiga sasaran kebijakan larangan impor, yaitu:

  1. Kebijakan Larangan Impor Berorientasi Lingkungan Hidup.
  2. Kebijakan Larangan Impor Untuk Melindungi Industri Dalam Negeri dan
  3. Menjaga Balance of Payments, dan

Berikut ini adalah ulasan kebijakan larangan impor sesuai ketiga sasaran tersebut diatas:

  1. Kebijakan Larangan Impor Berorientasi Lingkungan Hidup

Pemerintah suatu negara dapat melarang impor produk tertentu apabila produk tersebut berbahaya bagi manusia, hewan, maupun tumbuhan di suatu negara, atau karena produk itu merupakan hasil eksploitasi sumber daya alam hingga merusak keseimbangan ekologi.

Di Indonesia, terdapat beberapa produk yang dilarang masuk ke Indonesia karena berbahaya bagi lingkungan hidup, antara lain limbah plastik (Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 520/MPP/Kep/8/2003), Pestisida etilen dibromida, Limbah B3 kecuali item tertentu, Udang spesies Penaeus Vanamae (Peraturan Bersama Mendagri dan Menteri Kelautan dan Perikanan), dan produk susu dan olahan susu dari Cina. Akan tetapi, pada Agustus 2008 muncul berita bahwa Pemerintah akan mengizinkan impor limbah plastik untuk memenuhi kebutuhan bahan baku murah bagi industri, karena menurut data Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia, selama semester pertama 2008 harga bahan baku plastik polyethylene dan polypropylene naik 100 persen dari US$ 1.100 menjadi US$ 2.200 per ton. Sedangkan pelarangan impor udang spesies Penaeus Vanamae adalah karena di pasar internasional beredar udang jenis ini yang terserang penyakit.