Hampir Seluas Jabar, Ini Tantangan Sintang Siapkan Generasi Emas

Hampir Seluas Jabar, Ini Tantangan Sintang Siapkan Generasi Emas

Hampir Seluas Jabar, Ini Tantangan Sintang Siapkan Generasi Emas

Hampir Seluas Jabar, Ini Tantangan Sintang Siapkan Generasi Emas
Hampir Seluas Jabar, Ini Tantangan Sintang Siapkan Generasi Emas

Akses pendidikan dasar di daerah pedalaman hingga saat ini masih menjadi tantangan

yang belum terpecahkan. Pemerintah masih mencari formula untuk membuat pemerataan pendidikan bagi anak-anak di daerah-daerah terpencil.

Tak terkecuali, Kabupaten Sintang yang memiliki luas wilayah ketiga terbesar di Provinsi Kalimantan Barat setelah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kapuas Hulu. Hampir menyamai luas Jawa Barat, luas wilayah Kabupaten Sintang yaitu 21.635 km dan terbagi ke dalam 14 Kecamatan dan 391 desa.

Menurut Bupati Sintang Jarot Winarno, yang paling sulit dalam pembangunan berkelanjutan adalah menyeimbangkan antara konservasi, dengan menjaga lingkungan hidup, dengan pembangunan ekonomi dan sosial budaya. Hal itu karena dalam pembangunan suatu daerah, apalagi Kabupaten Sintang dengan kondisi banyaknya perbukitan dan hutan, perlu adanya perencanaan yang matang.

“Kita membangun ini bukan hanya untuk generasi sekarang saja, tapi juga yang akan datang

. Dan paling penting, kita bangun, jadi yang kita usahakan ini tidak boleh mengurangi kesempatan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhan mereka,” ujar Jarot saat ditemui detikcom belum lama ini.

Baca juga:
Awalnya Rumah Tinggal, Disulap Jadi Pusat Kreativitas Anak Pedalaman

Dalam konsep pembangunan berkelanjutan ini, lanjut Jarot, Sumber Daya Manusia

(SDM) yang unggul dengan menyiapkan anak-anak di Kabupaten Sintang yang mampu melewati zaman sehingga sampai menuju generasi emas 2045, menjadi tantangannya.

“Kenapa, Sintang ini seluas Jawa Barat, kami ini punya 391 desa. Nah, bagaimana ide tentang open defecation free (bebas buang air sembarangan) itu sampai bisa di ujung-ujung kampung. Bagaimana ide tentang namanya program Kinerja dan Akuntabilitas (Kiat) Guru, kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui guru-guru di daerah-daerah yang sangat tertinggal itu bisa berjalan dengan baik. Itu problem buat kita,” ujarnya.

Menurut Jarot, perlu adanya peranan dari berbagai pihak mulai dari pemerintah desa, masyarakat desa dan dana desa untuk membangun dari pinggiran. Dan yang paling penting, penggunaan dana desa memang saat ini akan beralih dari pengembangan infrastruktur ke pemberdayaan masyarakat.

Ada titik-titik kritis yang terus diingatkan Jarot kepada para kepala desa, salah satunya di bidang kesehatan. Menurut Jarot, Sintang merupakan kabupaten prioritas penanggulangan stunting. Dengan memperbaiki sanitasi, seperti air bersih, buang air tidak sembarangan, dan penataan perumahan kumuhnya, maka akan mengurangi 42 persen angka stunting di Kabupaten Sintang.

 

Baca Juga :