Syarat Lulus Sarjana Indonesia Semakin Sulit

Syarat Lulus Sarjana Indonesia Semakin Sulit

Tahukah Anda juga Agustus 2012 syarat untuk lulus program Sarjana mesti membuahkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah, padahal Media Jurnal Ilmiah yang menampung dan menerbitkan kepentingan selanjutnya belum siap?

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso menjelaskan bahwa sementara ini kuantitas karya ilmiah perguruan tinggi di Indonesia tetap benar-benar rendah. Bahkan, hanya sepertujuh dari kuantitas karya ilmiah perguruan tinggi di Malaysia. Oleh gara-gara itu, keputusan ini punya tujuan untuk meningkatkan kuantitas karya ilmiah di Indonesia.

Beberapa sementara selanjutnya terungkap bahwa jurnal perguruan-perguruan tinggi Indonesia yang terindeks dalam basis data jurnal dan prosiding penelitian internasional, layaknya Scopus dan Google Scholar, tetap benar-benar rendah.

Alasan untuk diberlakukan keputusan selanjutnya Dirjen Dikti menyebutkan:
Sebagai ahli, seorang sarjana mesti memiliki kemampuan menulis secara ilmiah. Termasuk menguasai tata cara penulisan ilmiah yang baik. Maka tiap-tiap mahasiswa mesti bisa menulis karya ilmiah baik dari rangkuman tugas, penelitian kecil, mau pun ringkasan dari skripsi yang dibuatnya. Sarjana mesti memiliki kemampuan menulis secara ilmiah. Apa saja yang ia pelajari selama kuliah, juga bisa juga ringkasan skripsi.
Ketika seorang sarjana telah mahir menulis ilmiah, ke depannya diharapkan tidak bakal kesulitan saat memicu karya ilmiah di jenjang selanjutnya. Sehingga diharapkan keputusan ini bisa menciptakan kuantitas dan kualitas karya ilmiah yang dihasilkan oleh Indonesia. Kelak saat lanjut ke Magister atau Doktor, kualitas tulisan ilmiahnya bisa meningkat, berwawasan global, dan bisa terbit di jurnal-jurnal internasional,” ujarnya.
Untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam perihal memicu karya ilmiah. Berdasarkan data Kemdikbud, kuantitas karya ilmiah yang dihasilkan perguruan tinggi Indonesia sementara ini tetap rendah, hanya sepertujuh terkecuali dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia. Untuk perihal ini Indonesia tertinggal jauh, supaya ini mesti dimengerti benar-benar mendesak. Karena kuantitas karya ilmiah memiliki korelasi dengan penghasilan per kapita

Cukupkah media Jurnal Indonesia mempu menampung, memproduksi dan menerbitkan?

Persyaratan selanjutnya tidak membumi gara-gara tidak sesuai dengan energi dukung jurnal di Tanah Air, gara-gara ada 3.000 lebih perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia, setidaknya tiap-tiap tahun ada 750.000 calon sarjana. Untuk menampung makalah mereka, maka mesti ada puluhan ribu jurnal ilmiah di negeri ini. Seandainya di Indonesia sementara ini ada 2.000 jurnal, dan tiap-tiap jurnal terbit setahun dua kali, yang tiap-tiap terbit mempublikasikan lima artikel, maka tiap-tiap tahun hanya bisa memuat 20.000 tulisan para calon sarjana.

Meskipun kewajiban itu baru bakal berlaku sesudah Agustus 2012, tampaknya sukar dipenuhi. Hingga Oktober 2009, menurut Indonesian Scientific Journal Database, terdata kira-kira 2.100 jurnal yang berkategori ilmiah yang tetap aktif. Dari kuantitas itu hanya kira-kira 406 jurnal yang telah terakreditasi.

Sudahkah keputusan selanjutnya diperhitungkan dan dipersiapkan secara matang. Sebab terkecuali dipaksakan bakal menghidupkan penerbitan jurnal yang “asal-asalan”, sekadar untuk mencukupi persyaratan kelulusan. Jika perihal itu terjadi, maka filosofi di balik penerbitan jurnal sebagai media memublikasikan karya akademik tidak terpenuhi. Jurnal hanya jadi media kebiasaan sebagai persyaratan untuk bisa meluluskan sarjana.

Mahasiswa yang terlanjur dengan program lama?

Bagaimana dengan persyaratan publikasi karya tulis ilmiah bagi mahasiswa S1. Sebenarnya pak Dirjen agak kontradiktif kebijakannya mengingat di lapangan telah sejak lama berlaku jalan non skripsi di lebih dari satu universitas, atau apabila ada skripsi, mungkin hanya berbentuk kajian atau penelitian enteng yang mungkin saja belum bisa dikatakan sebagai penelitian ilmiah kelas atas. Tentu hasil penelitian semacam ini sukar menembus suatu jurnal ilmiah dan akibatnya mahasiswa S1 bakal terkendala studinya, dari semestinya 4 tahun jadi 5 – 6 tahun.

Untuk peserta program doktor dan magister mungkin tetap masuk akal gara-gara mereka mesti memicu disertasi atau tesis atas suatu penelitian yang berbobot dan asli bukan jiplakan. Bagus juga persyaratan ini untuk meningkatkan kualitas doktor dan magister memproduksi dalam negeri yang terkesan benar-benar produktif di lebih dari satu bidang. Lihat saja begitu banyaknya politisi dan birokrat yang bergelar doktor dan bertebarannya bagian DPR an birokrat sekolah doktor sambil bekerja. Toh akhirnya bagi doktor-doktor semacam ini sesudah jadi doktor berhenti pula kesibukan penelitiannya, bukan apa-apa gara-gara penelitian bukan bidang kerja mereka.

Artikel Lainnya : motivation letter

Beberapa Alternatif Mengatasi Masalah

Saya berpendapat mesti ada perbaikan atau perubahan mendasar supaya mahasiswa S1 bisa menulis karya ilmiah terpublikasi di jurnal ilmiah terakreditasi atau kebijakan ini diganti dengan syarat yang lain :
Jalur non skripsi dan non tesis mesti dihapus baik di program S1 maupun S2 (bila ada).
Program sarjana 4 tahun mesti dikembalikan ke sistem lama jadi 6 tahun atau paling sedikit 5 tahun, dengan meningkatkan dan memperkaya mata kuliah statistik , metodologi penelitian, perancangan percobaan atau mata kuliah sejenis yang menunjang supaya suatu penelitian mendapat standing bobot ilmiah standar.
Bila program 4 tahun bakal dipertahankan, sebaiknya pada semester 7 dan 8 atau setara tingkat 4, disiapkan jalan science dan jalan business & technology. Jalur science disediakan bagi mahasiswa yang berminat melanjutkan ke program magister dengan target kelak jadi peneliti, tetapi jalan business & technology untuk mahasiswa yang menginginkan bekerja di jalan non peneliti. Mereka yang mengambil jalan science-lah yang diwajibkan menulis karya ilmiah terpublikasi. Pada kenyataannya kelak bakal sukar membendung keinginan mahasiswa jalan non science untuk ditolak ikut program S2.
Keharusan menulis karya ilmiah terpublikasi bagi mahasiswa S1, yang sekolahnya diprogram 4 tahun, diganti jadi kewajiban mempublikasikan tulisan ilmiah tenar di jurnal-jurnal universitas atau koran dan majalah, di main stream media maupun media online atau mungkin blog layaknya Kompasiana. Dosen pembimbing masing-masing jadi mentor, reviewer sekaligus editor bagi tulisan mahasiswa-mahasiswanya.
Tugas menulis karya ilmiah terpublikasi semestinya jadi kewajiban peneliti Indonesia yang bertebaran di Perguruan Tinggi -yaitu para dosen-, BPPT, LIPI, Badan Penelitian dan Pengembangan di tiap-tiap kementerian dan sewajarnya dikoordinasi oleh Kementerian Riset. Dengan dana riset yang disediakan pemerintah benar-benar wajar apabila tiap-tiap orang -terutama yang berstatus PNS- yang terdaftar sebagai peneliti diwajibkan menulis karya ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan dan terpublikasi di jurnal ilmiah yang ditetapkan. Barangkali ada pengecualian bagi penelitian yang berbentuk benar-benar strategis bagi keamanan dan ketahanan negara.

Baca Juga :