Aku Bertahan Karena Cinta

Aku Bertahan Karena Cinta

Table of Contents

Aku Bertahan Karena Cinta

Aku Bertahan Karena Cinta
Aku Bertahan Karena Cinta

Apa itu cinta? Itu sebuah pertanyaan yang terlontar dari seorang temanku ketika aku harus berhadapan dengan suatu masalah perasaan. Aku adalah seorang mahasiswa di salah-satu kampus di Jakarta. Aku memiliki beberapa teman, namun kami berbeda Universitas. Mereka semua berkuliah di satu kampus yang sama, hanya aku saja yang berbeda. Mereka semua adalah temen-temanku yang baik. Hampir setiap kali aku pulang kuliah, pasti aku mengunjungi kampus di mana teman-temanku berkuliah , maka tidak heran, aku lebih mengenal mahasiswa di sana dari pada di tempatku. Namaku Baim“bukan nama asli” teman-temanku sering memanggilku dengan Ubay, karena sudah terbiasa jadi aku tidak binggung. Aku dan mereka sering berkumpul di depan kampus teman-temanku, terkadang merekapun sering mendatangi kampus di mana aku melanjutkan pendidikanku. Walau kami berbeda tempat menimba ilmu, kami tetap selalu bertemu . Saat itu aku mengenal seorang wanita di tempat teman-temanku berkuliah. Dia adalah Chatlia”bukan nama asli” dia adalah salah satu mahasisiwi di sana dan cukup dekat dengan teman-temanku. Saat itu aku dikenalkan kepadanya oleh salah-satu temanku. Waktu itu dia sedang ada masalah dengan pacarnya. Aku jalani pertemanan itu. Aku coba menghibur dia. Perlahan rasa nyaman hadir, dan akupun semakin dekat dengan dia. Dia wanita yang lucu, selalu ada ide untuk membuatku tertawa. Kedekatan kami berjalan lama. Di satu saat temanku menanyakan prihal kedekatan kami. Mungkin karena kami terlalu dekat, yang membuat teman-temanku bertanya-tanya? Tidak terasa sudah aku telah lama menemani kegalauan dia. Kini aku menjadi galau. Aku kini menyimpan rasa terhadap dia. Ingin sekali ku ungkapkan perasaanku terhadap dia. Aku bertanya pada teman-temanku yang semuanya adalah teman satu kampus dengan wanita yang aku sayangi itu. Aku meluapkan perasaanku, aku berkata pada teman-temanku bahwa aku cinta dia. Mereka semua mendukungku, karena Chatlia sudah berpisah dari pacarnya. Aku menentukan hari dimana aku ingin menyatakan cinta terhadapnya. Tibalah saatnya, waktu itu aku menemani dia sehabis kuliah. Kami makan di sebuah warung makannan di pinggir jalan. hatiku berdebar kencang, keringatku pun mengaliri telapak tanganku. Aku harus memulai dari mana? Aku bertanya pada diriku sendiri. Aku beranikan diriku, saat itu aku mengutarakan perasaanku terhadap dia. Aku terdiam selesainya mengutarakan perasaanku terhadapnya, berharap cintaku dapat diterimanya. Dia hanya tersenyum padaku, tanpa member jawaban padaku. Aku tidak mempersoalkan itu, setidaknya aku sudah mengungkapkan semua isi hati yang kumiliki utntuk dia. Setelah hari itu berlalu, dimana aku mengutarakan rasaku, kami menjalani seperti biasa. Kami saling bertemu, berkumpul berasama teman-temanku. Sedikit berbeda, saat aku bertemunya , jantungku berdebar lebih kencang. Aku masih menunggu jawaban dari semua persaanku ini. Saat kami berkumpul di satu tempat, salah satu temanku berkata padaku bahwa Chatlia pernah mencintaiku. Hatiku terasa berbunga walau itu hanya sebuah kata-kata dari temanku. Aku berfikir, masih ada sudut untukku membuktikan kesungguhan cinta ini. Hari-hariku berbias namanya. Setiapku beraktifitas tergambar wajahnya di khayalku, sungguh inilah cinta untuknya. Sore itu, saat kami berkumpul, temaku berkata jikalau Chatlia bertanya tentangku! Ada apa gerangan dia bertanya tentangku? Tak lama kemudia dia pun datang, dia menghampiri kami dan bergabung untuk sekedar bercanda gurau. Tidak terasa malam tiba, diapun hendak pulang. Aku tidak tega melihat dia harus pulang larut malam sendiri. Aku takut terjadi apa-apa terhadapnya. Aku bertanya padanya siapa yang akan mengantarnya pulang? Dia bberkata bahwa dia akan di jemput, aku sedikit tenang , setidaknya dia ada yang mengantar pulang. Diapun beranjak pergi menuju area parker kampus. Tidak lama dia pergi, aku dan kawan-kawanku pu beranjak untuk pulang. Dalam hatiku berdoa, semoga Chatlia selamat sampai rumahnya. Saat aku menuju area parker bersama kawan-kawanku aku berpapasan denga Chatlia, dia tidak sendiri dia dengan seorang peria. Dia pun mengenalkannya pada kami, bahwa peria itu adalah kekasihnya. Dia sudah menjalani hubungan dengan peria itu cukup lama. aku tidak dapat berkata! Karena yang aku ketahui dari Chatlia, dia belum memiliki kekasih semenjak dia putus dari mantan kekasihnya. Dia melihat kearahku, dan akupun tak sanggup berbuat apa-apa! Aku melihat mereka berdua begitu dekat. Mungkin dia bahagia dengan peria itu, mungkin peria itu adalah yang terbaik untuk wanita yang aku cintai. Aku pun hanya tersenyum melihat mereka berdua. Tidak terpungkiri aku patah hati, namun jika ini memang menjadi yang terbaik untuk wanita yang aku cintai, inilah pilihan yang aku ambil “aku siap merasakan patah hati demi senyumnya”. Sampai detik ini aku sering bertemu denganya, berbicara denganya dan masih mencintainya, aku akan selalu bertahan disini dengan segala rasa ini tanpa harus memiliki dia. Untukku cinta adalah sebuah perasaan yang tidak dapat melihat pasangan yang di kita cintai menangis dan cinta adalah sebuah pembuktian ketulusan rasa, bukan hanya kata-kata manis semata.

Sumber : https://icanhasmotivation.com/