Sejarah Hari Pahlawan, dari Penyobekan Bendera hingga Pertempuran di Surabaya

Sejarah Hari Pahlawan, dari Penyobekan Bendera hingga Pertempuran di Surabaya

Sejarah Hari Pahlawan, dari Penyobekan Bendera hingga Pertempuran di Surabaya

Sejarah Hari Pahlawan, dari Penyobekan Bendera hingga Pertempuran di Surabaya
Sejarah Hari Pahlawan, dari Penyobekan Bendera hingga Pertempuran di Surabaya

Hari ini, 73 tahun yang lalu, tepatnya 10 November 1945 adalah hari bersejarah bagi Bangsa Indonesia yang diperingati sebagai “Hari Pahlawan”. Yang melatarbelakangi tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan adalah peristiwa pertempuran hebat yang terjadi di Surabaya antara arek-arek Suroboyo dengan serdadu NICA yang diboncengi Belanda.

Percikan pertempuran terjadi pada 19 September 2018. Saat itu, dilansir nasional.kompas.com, arek-arek Surabaya menyobek warna biru bendera Belanda yang dikibarkan di Hotel Yamato, Surabaya. Arek-arek (masyarakat) Surabaya murka dengan Belanda yang dianggap melakukan pengibaran bendera secara semena-mena. Kemarahan arek Surabaya memang wajar, sebab Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan sebulan sebelumnya.

Selain itu, Indonesia sedang fokus menggalakkan semangat kemerdekaan ke semua wilayah di Indonesia. Akibatnya, muncul inisiatif dari arek Surabaya untuk merobek bendera tersebut.

Setelah proklamasi kemerdekaan, Pemerintah Indonesia gencar-gencarnya memberikan informasi kepada rakyat mengenai makna kemerdekaan. Bendera Merah Putih ditetapkan sebagai bendera nasional. Selanjutnya, pemerintah melakukan sosialisasi bendera negara ke semua wilayah. Surabaya pun menjadi salah satu kota yang ramai mengibarkan bendera Merah Putih ke berbagai sudut kota.

Patriotisme dan kebanggaan akan merdekanya Indonesia menjadi alasan utama. Di satu sisi, Sekutu yang telah memenangkan Perang Dunia 2 ingin mengambil kembali wilayah jajahan dari Belanda, yang merupakan salah satu anggota. Tentara Inggris datang dan tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) untuk melucuti tentara Jepang.

Pihak Inggris juga membawa misi untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi Pemerintahan Belanda. Perwakilan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris.

Pengibaran dan Penyobekan Bendera Belanda

Kota Surabaya tak lepas dari jangkauan pihak Sekutu. Sekelompok orang Belanda pada 18 September 1945 diketahui mengibarkan bendera Belanda (Merah Putih Biru) tanpa persetujuan Pemerintah Indonesia di Surabaya. Tepat di tiang paling atas Hotel Yamato, bendera itu berkibar malam harinya. Paginya, ketika arek Surabaya melihat bendera, mereka langsung marah dan murka.

Belanda dianggap tak menghargai usaha dari rakyat Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaan. Para pemuda Surabaya pagi hari bersitegang dengan orang-orang Belanda di Hotel Yamato karena bendera itu. Dilansir dari Harian Kompas edisi 20 September 2016, Residen Soedirman didampingi Sidik dan Hariyono menemui WVCh Ploegman yang merupakan perwakilan Inggris, juga orang-orang Belanda di sana.

Tujuannya, untuk berunding dan menurunkan bendera yang memicu amarah masyarakat Surabaya. Ploegman menolak menurunkan bendera Belanda, serta menolak mengakui kedaulatan Indonesia. Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian di lobi Hotel Yamato. Saat itu, Ploegman tewas dicekik Sidik, lalu Sidik tewas ditembak tentara Belanda.

Massa yang datang semakin banyak. Mereka mendukung Residen Soedirman untuk segera membuat inisiatif agar bendera itu segera diturunkan. Residen Sordirman bersama Haryono akhirnya keluar ruangan dan memberikan informasi kepada massa bahwa perundingan buntu tanpa hasil. Mereka menolak menurunkan bendera itu. Sebagian pemuda yang datang berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda.

Mereka merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih. “Merdekaaa ! Merdekaaa!” pekik dari massa yang berhasil merobek dan menaikkan lagi bendera merah putih. Akibat peristiwa ini, berujung pada berbagai pertempuran pertama antara pihak Indonesia dengan tentara Inggris pada 27 Oktober 1945.

Kematian Jenderal Mallaby

Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal

29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya.

Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah.

Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali.

Kematian jenderal Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.

Pada tanggal 10 November 1945 subuh, pasukan Inggris melakukan aksi

yang disebut Ricklef sebagai “pembersihan berdarah” di suluruh sudut kota. Serangan mengerikan itu dibalas dengan pertahanan rakyat yang galang oleh ribuan warga kota.

Daripada mengikuti ultimatum meletakan senjata dan meninggalkan kota, arek Surabaya justru memilih tetap bertahan meskipun konsekuensi pilihan tersebut berarti adalah jatuhnya korban jiwa.

Pihak Inggris dalam waktu tiga hari telah berhasil merebut kota. Akan tetapi, pertempuran baru benar-benar reda setelah tiga minggu. Hal ini menandakan betapa gigihnya perlawanan arek Surabaya. Dari pertempuran itu, 6000 rakyat Indonesia gugur dan ribuan lainnya meninggalkan kota.

Menjadi Hari Pahlawan

Dilansir merdekafm.com, Mantan pimpinan tertinggi gerakan Pemuda Republik

Indonesia (PRI) Sumarsono yang juga ikut ambil bagian dalam peperangan pada saat itu mengusulkan kepada Presiden Soekarno agar menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Hingga sekarang, peristiwa pertempuran Surabaya diperingati sebagai Hari Pahlawan. Peringatan ini tidak hanya sekedar untuk mengajak seluruh rakyat Indonesia mengingat peristiwa heroik arek-arek Surabaya, tetapi juga merenungi kembali pengorbanan mereka kepada tanah air yang

 

Sumber :

https://nashatakram.net/sejarah-peringatan-maulid/