Pendidikan Papua : Kunci Atasi Separatisme

Pendidikan Papua Kunci Atasi Separatisme

Pendidikan Papua : Kunci Atasi Separatisme

Pendidikan Papua Kunci Atasi Separatisme
Pendidikan Papua Kunci Atasi Separatisme

Guna mendorong peningkatkan kualitas pendidikan di Papua, Pemerintah Provinsi Papua

melalui dinas pendidikan mengirim anak-anak Papua ke Universitas Pelita Harapan (UPH) untuk menjalani pendidikan menjadi guru. Sebelumnya, dalam rangka memajukan kualitas pendidikan di Papua, pemerintah propinsi Papua dan Yayasan Universitas Pelita Harapan menjalin kerjasama melalui program pendidikan. Dimana pemerintah Papua menunjuk Yayasan UPH untuk melaksanakan Program pendidikan bagi tenaga guru, pelajar dan mahasiswa yang berprestasi, dan ikut seta dalam pengembangan sekolah-sekolah di Papua. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Papua Elias Wonda mengungkapkapkan, pengiriman anak-anak Papua ke UPH tersebut dengan harapan setelah lulus dapat kembali membantu pemerintah untuk meningkatkan SDM di Bumi Cenderawasih. “Pengiriman anak-anak Papua tersebut sudah dilakukan sejak tahun 2012,” terangnya.

Program ini dapat tentunya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan guru di Papua,

pasalnya sampai saat ini wilayah pedalaman Papua sampai saat masih kekurangan guru. “Tahun depan ada dua anak yang akan lulus, dimana saat ini mereka masIh ada tugas yang harus diselesaikan lebih dulu. Mungkin IP nya kurang sehingga tahun depan baru akan selesai,” jelasnya. Menurut ia, di Papua ada sekitar empat sekolah yang dibangun oleh universitas ini, seperti di Kabupaten Tolikara (Mamit, Karubaga), dan Kabupaten Jayapura. “Untuk Mamit kami mengirim 13 calon guru, Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura ada sekitar puluhan orang, Karubaga satu orang, dan Tolikara. Jadi mereka membangun sekolah-sekolah perintis di Papua,” ucapnya.

Ia katakan, dimasa kepemimpinan Kepala Dinas Pendidikan lama James Modouw,

pemerintah provinsi mengirim para caloh guru sebanyak dua kali, dan semuanya sudah selesai menempuh pendidikan di UPH. “Terakhir kemarin masih tersisa dua anak lagi yang tahun depan baru akan selesai. Jadi ini merupakan program lanjutan dari pejabat lama,” katanya. Dia menambahkan, saat ini dirinya hanya melanjutkan program dari pimpinan lama, dimana sejak mereka masuk hingga selesai dibiayai oleh pemerintah provinsi Papua.

 

Sumber :

Negara yang menjajah Indonesia