Burug-Burung Kertas

Burug-Burung Kertas

Burug-Burung Kertas

Burug-Burung Kertas
Burug-Burung Kertas

 

Sewaktu Jhony dan Leony baru berpacaran

Jhony melipat 1000 burung kertas dan memberikannya kepada Leony sebagai hadiah. Jhony berkata, jika 1000 burung kertas itu merupan 1000 ketulusan hatinya kepada Leony.
Leony sangat menyukai burung-burung kertas itu dan menyatakan bahwa ia sangat berbahagia. Leony juga pernah menyatakan bahwa ia sangat ingin sekali tinggal di Paris bersama Jhony, baginya Paris sangatlah indah dan cocok untuknya.

Setiap saat mereka selalu merasakan betapa indahnya

cinta mereka berdua. Kemana-mana mereka selalu bersama, dan mereka membuat banyak orang lain merasa iri akan kemesraan mereka. Sampai suatu ketika, Leony berubah, ia mulai menjauhi Jhony. Bahkan ia memutuskan untuk menikah dan akan tinggal di Paris bersama suaminya.
Sewaktu mereka akan berpisah, Leony sempat berkata sesuatu kepada Jhony, “Kita harus melihat dunia ini dengan pandangan ke depan. Menikah bagi seorang wanita adalah kehidupan kedua kalinya. Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik. Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan bagaimana kehidupan kita setelah menikah nanti!”
Jhony sangat terpukul, dia tidak menyangka Leony bisa berlaku seperti itu. Jhony merasa sangat frustasi, dan peristiwa ini juga membuat perubahan besar pada prilakunya. Perlahan dalam hatinya, ia mulai membenci Leony. Ia pun bertekad suat saat nanti akan menjadi orang kaya dan sukses, agar Leony menyesal telah mencampakannya.
Jhony pun mulai bekerja keras, dia pernah menjual koran, menjadi karyawan lepas di sebuah rumah makan, bisnis kecil, setiap pekerjaan dia kerjakan dengan sangat baik dan tekun.

Setelah beberapa tahun kemudian

karena pertolongan teman dan kerja kerasnya, akhirnya Jhony mempunyai sebuah perusahaan besar. Kini ia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Leony, dia masih tidak dapat melupakannya sedikit pun.
Pada suatu hari di tengah hujan lebat, Jhony tengah mengendarai mobilnya di sebuah pedesaan. Dari dalam mobil ia melihat ada sepasang orang tua tengah berjalan sangat pelan di depannya. Dia mengenali mereka, mereka adalah orang tua Leony.
Dalam hatinya, ingin sekali ia menunjukan kepada mereka kalau sekarang ia tidak hanya mempunyai mobil pribadi, tetapi juga mempunyai Vila dan perusahaan sendiri. Ia ingin mereka tahu kalau ia bukan seorang yang miskin lagi, ia sekarang adalah seorang Bos sebuah perusahaan besar.
Jhony mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang tua tersebut. Hujan terus turun, tanpa henti, biarpun kedua orang tua itu memakai payung, badan mereka tetap basah karena hujan.
Sewaktu mereka sampai tempat tujuan, Jhony tercengang oleh apa yang dilihatnya, itu adalah tempat pemakaman umum dan di sana terdapat sebuah batu nisan bertulisan sebuah nama yang sangat ia kenal ‘Leony’.
Di samping makamnya yang kecil, tergeletak burung-burung kertas yang mulai hancur terkena air hujan. Tapi di mata Jhony, burung-burung kertas itu seakan terlihat begitu hidup.
Orang tua Leony memberitahu Jhony, sebenarnya Leony tidak pergi ke paris, tapi Leony terserang kanker ganas. Leony ingin Jhony menjadi orang yang sukses, dan mempunyai keluarga yang harmonis tanpa memikirkan keadaanya. Maka dengan terpaksa ia berbuat demikian terhadap Jhony dulu. Leony bilang, dia sangat mengerti Jhony, dia percaya kalau Jhony pasti akan berhasil meski tanpanya. Leony juga mengatakan, kalau pada suatu hari nanti Jhony pasti akan datang menjenguk makamnya dan ia berharap, Jhony membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi.
Mendengar hal itu, Jhony langsung berlutut di depan makam Leony, ia menangis dengan begitu sedihnya. Ternya wanita yang selama ini ia benci sangat memperhatikaannya, bahkan rela membuang kebahagiaannya demi keberhasilan Jhony.
Hujan pada hari itu terasa tidak akan berhenti, tetesan-tetesan air terus membasahi sekujur tubuh Jhony. Jhony teringat senyum manis Leony yang begitu manis dan polos. Dalam hatinya ia berdoa, “Tuhan, meski tidak Engkau kau kumpulkan kami berdua di bumi ini. Aku berharap Engkau mau mengumpulkan kami di surga nanti.”

Baca Juga :