Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia

Perkembangan Kerajaan-Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia

Perkembangan Hindu & Buddha di India mempunyai akibat maupun dampak yang luar biasa pada kehidupan Internasional, terlebih Asia Selatan & Tengah (Tibet, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka), Asia Timur (Jepang, Cina, Korea, Taiwan), & Asia Tenggara. Indonesia merupakan daerah yang dipengaruhi oleh agama & budaya Hindu-Buddha.

Pengaruh agama & kebudayaan Hindu maupun Buddha pada kehidupan masyarakat Indonesia zaman dahulu begitu kental & hingga kini tetap terasa. Hal ini nampak berasal dari berbagai macam peninggalan bersejarah bercorak Hindu-Buddha. Pengaruh berasal dari Hindu mampu kita memandang di Bali, yang beberapa besar masyarakatnya pemeluk Hindu. Pengaruh Buddha mampu nampak pada kemegahan Candi Borobudur di Jawa Tengah.

A. PROSES MASUK DAN MENYEBARNYA AGAMA HINDU-BUDDHA DI INDONESIA
Pengaruh Hindu & Buddha singgah ke Indonesia nyaris bersamaan. Secara garis besar mampu diketahui melalui, dampak pada beberapa kerajaan besar yang dulu berdiri di Indonesia, berasal dari jadi Kutai yang menguasai beberapa Kalimantan hingga Majapahit yang mampu menguasai nyaris semua lokasi Indonesia & luar negeri. Sebelum bersinggungan bersama Hindu-Buddha, masyarakat Indonesia dahulunya menganut kepercayaan tradisional bersifat penghormatan pada roh leluhur & kebolehan alam semesta dan benda-benda spesifik (animisme dan dinamisme). Karena dampak Hindu-Buddha membuat kepercayaan animisme-dinamisme berubah kepada dewa-dewi pengatur alam. Masyarakat Indonesia pun jadi menyembah dewa-dewi yang mirip bersama yang di India.
Awalnya, agama Buddha lebih dulu berkembang di Indonesia. Di Indonesia (juga Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Laos) aliran Hinayanalah yang berkembang, namun aliran Mahayana lebih berkembang di Cina, Korea, Taiwan, dan Jepang. Perkembangan Buddha awal di Indonesia dibuktikan oleh temuan patung Buddha berasal dari abad ke dua M di Sikendeng, Sulawesi Selatan. Contoh lainnya adalah Kerajaan Sriwijaya yang udah tersedia pada abad ke-6 M di Sumatera. Perkembangan Buddha yang pesat di Asia Tenggara pada awal abad masehi disebabkan oleh faktor-faktor politis.
Ketika itu agama Buddha sedang capai masa keemasannya di Asia, terlebih di India dan Cina. Banyak kerajaaan yang menjadikan Buddha sebagai agama formal negara, selain Hindu. Namun kemudian, agama Buddha kehilangan kejayaaan dikarenakan sejumlah kerajaan Buddhis mengalami keruntuhannya. Sebaliknya, Hindulah yang lantas menjadi agama formal kerajaan-kerajaan yang bersangkutan.
Di Indonesia, kerajaan bercorak Hindu lebih berkembang daripada yang Buddha. Pada perkembangannya, bahkan nampak agama “baru” atau agama sinkretis, yakni perpaduan berasal dari Hindu Siwa bersama Buddha. Agama Siwa-Buddha jadi berkembang pesat pada masa Singasari di Jawa Timur, masa orang-orang Jawa udah menciptakan karya seni dan arsitektur di mana unsur Jawa lebih ditonjolkan daripada unsur India. Disebutkan didalam kitab-kitab dan pada bangunan candi-candi bahwa raja-raja Singasari seperti Kertanegara dan Wisnuwardhana adalah penganut agama baru ini. Adapun proses dan sementara kapan masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia hingga sekarang tetap menjadi pembicaraan di pada para sejarawan. Setidaknya terdapat empat pendapat, yang masing-masing pendapat sebenarnya saling menguatkan. Adapun pendapat-pendapat berkenaan masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia adalah sebagai berikut:
(1) Teori Brahmana, mengatakan bahwa yang mempunyai agama Hindu ke Indonesia adalah orang-orang Hindu berkasta brahmana. Para brahmana yang singgah ke Indonesia merupakan tamu undangan berasal dari raja-raja penganut agama tradisonal di Indonesia. Ketika tiba di Indonesia, para brahmana ini pada akhirnya ikut menyebarkan agama Hindu di Indonesia. Ilmuan yang mengusung teori ini adalah Van Leur.
(2) Teori Waisya, mengatakan bahwa yang udah sukses mendatangkan Hindu ke Indonesia adalah kasta waisya, terlebih para pedagang. Para pedagang banyak punya relasi yang kuat bersama para raja yang terdapat di kerajaan Nusantara. Agar usaha mereka di Indonesia lancar, mereka sebagai pedagang asing tentunya wajib membuat para penguasa pribumi senang, bersama cara dihadiahi barang-barang dagangan. Dengan demikian, para pedagang asing ini mendapat pemberian berasal dari raja setempat. Di tengah-tengah kegiatan perdagangan itulah, para pedagang selanjutnya menyebarkan budaya dan agama Hindu ke tengah-tengah masyarakat Indonesia. Ilmuwan yang mencetuskan teori ini adalah N.J. Krom.
.
(3) Teori Ksatria, mengatakan bahwa proses kehadiran agama Hindu ke Indonesia dilangsungkan oleh para ksatria, yakni golongan bangsawan dan prajurit perang. Menurut teori ini, kehadiran para ksatria ke Indonesia disebabkan oleh kasus politik yang terus berlangsung di India supaya membuat beberapa pihak yang kalah didalam peperangan selanjutnya terdesak, dan para ksatria yang kalah pada akhirnya mencari daerah lain sebagai pelarian, salah satunya ke lokasi Indonesia. Ilmuan yang mengusung teori ini adalah C.C. Berg danMookerji.
(4) Teori Arus Balik, mengatakan bahwa yang udah berperan didalam menyebarkan Hindu di Indonesia adalah orang Indonesia sendiri. Mereka adalah orang yang dulu singgah ke India untuk mempelajari agama Hindu dan Buddha. Di pengembaraan mereka mendirikan sebuah organisasi yang kerap disebut sanggha. Setelah ulang di Indonesia, pada akhirnya mereka menyebarkan ulang ajaran yang udah mereka dapatkan di India. Pendapat ini dikemukakan oleh F. D . K . Bosch.
Kedatangan brahmana berasal dari India maupun lokal dipergunakan pula oleh beberapa golongan pedagang pribumi atau kepala suku yang menghendaki kedudukan dan tingkat sosialnya meningkat. Melalui persetujuan kaum brahmana, mereka dinobatkan menjadi penguasa secara politis (raja). Para penguasa baru ini lantas studi konsep dewa-raja (devaraja) supaya kekuasaannya jadi kuat. Dengan demikian, baik secara ekonomi, sosial, dan politik, golongan pedagang atau pemimpin suku selanjutnya menjadi lebih terhormat dikarenakan kekuasaannya pun bertambah luas. Setelah menjadi raja, mereka mempersenjatai dirinya bersama pengikut-pengikutnya yang setia untuk dijadikan tentara supaya keamanannya terjamin. Dalam memperluas lokasi pun, mereka lebih leluasa dan yakin diri.
Setelah sebuah kerajaan didirikan, proses feodal pun berlaku. Feodalisme adalah “sistem sosial atau politik yang beri tambahan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan” (KBBI, 2002). Dengan demikian, raja adalah yang pilih ke arah mana kerajaan bakal bergulir. Praktik feodalisme ini lumayan berkembang pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, terlebih di Jawa. Pengkastaan didalam masyarakat membuat pertalian feodalistik jadi menguat. Feodalisme menanggung stabilitas politik yang dibutuhkan seorang raja untuk keberlangsungan kerajaannya.
Sistem kasta ini membagi masyarakat didalam beberapa tingkatan sosial, yakni:
(1) Brahmana yang berperan sebagai penasehat raja dan pendidik agama.
(2) Ksatria yang terdiri atas penyelenggara dan penata pemerintahan dan juga pembela kerajaan (raja, pembantu raja, tentara).
(3) Waisya yang berperan sebagai pedagang, pengrajin, petani, nelayan, dan pelaku seni.
(4) Sudra yang terdiri atas pekerja rendah, buruh, budak, pembantu.

Sementara itu, didalam kerajaan Buddhis pengkastaan tak benar-benar berperan dikarenakan ajaran Buddha tidak mengenal pengkastaan. Dalam perihal ini, masyarakat Buddhis lebih demokratis dan egalitis. Maka berasal dari itu, proses feodal lebih berkembang di kerajaan-kerajaan bercorak Hindu. Dalam pilih kebijakan, raja dibantu oleh kaum pandita (pendeta) dan brahmana sebagai penasehat spiritual dan duniawi. Merekalah group yang mengetahui mengisi kitab suci yang ditulis didalam Sansekerta. Akibatnya, masyarakat awam tak barangkali mengetahui mengisi kitab suci tanpa perantara brahmana. Mereka punya hak perlu didalam mengatur sebuah upacara agama, seperti peringatan hari-hari suci, pengangkatan raja, peresmian piagam atau prasasti, atau pernikahan golongan bangsawan. Mereka pula yang merintis pembangunan sekolah-sekolah dan asrama-asrama didalam masyarakat Buddha. Kedudukan mereka mampu disamakan bersama kalangan ulama dan cendikiawan zaman sekarang.
B. BUKTI-BUKTI PROSES INDIANISASI DI INDONESIA
1. Berita Luar Negeri
Kronik-kronik Tiongkok pada masa Dinasti Han, Dinasti Sung, Dinasti Yuan dan Dinasti Ming mengatakan bahwa sejak awal Masehi udah berlangsung pertalian dagang pada Cina dan Indonesia. Salah satu buktinya adalah ditemukannya artefak-artefak bersifat keramik Cina di Indonesia. Fa-Hien, seorang rahib Buddha berasal dari Cina yang terdampar di To lo mo (maksudnya Kerajaan Taruma atau Tarumanegara di Jawa Barat) selama 5 bulan, didalam perjalanannya berasal dari India ke Cina, menulis apa-apa yang dilihatnya. Fa-Hien terkesan bersama keterampilan para pedagang di To lo mo didalam menawarkan dagangannya, terlebih beras dan kayu jati. Sementara itu, I-Tsing, peziarah dan rahib Buddha yang terhitung berasal dari Cina, menuliskan kesan berkenaan Sriwijaya sebagai salah satu pusat Buddhisme di Asia, abad ke-7 M yang mampu disejajarkan bersama India dan Cina. Di Sriwijaya itulah para calon rahib dan rahib Cina maupun pribumi, studi bahasa Sansekerta dan Pali sebelum saat berangkat ke India.Seorang pakar geografi Yunani, Claudius Ptolomeus, menginformasikan bahwa kapal-kapal berasal dari Aleksandria di Laut Mediterania (Mesir) berlayar lewat Teluk Persia ke bandar-bandar Baybaza di Cambay, India dan Majuri di Kochin, India Selatan. Dari daerah ini kapal-kapal melanjutkan pelayaran mereka ke bandar-bandar di pantai timur India hingga ke kepulauan Aurea Chersonnesus. Di kepulauan itu, kapal-kapal singgah di Barousae, Sinda, Sabadiba, dan Iabadium. Aurea Chersonnesus merupakan pengucapan Yunani untuk Kepulauan Indonesia, namun Barousae adalah Baros, sebuah bandar dagang kuno di pantai barat Sumatera. Sementara itu, Sinda adalah ejaan lain untuk Sunda, Sabadiba adalah Svarnadwipa (Sumatera), dan Iabadium adalah Javadwipa (Jawa). Indonesia terhitung disebutkan didalam petunjuk pelayaran laut berasal dari Yunani (Erythraea) bersama 27 mancanegara lainnya.

Kitab Ramayana karya Valmiki berasal dari India abad ke-3 SM terhitung secara tidak langsung mengatakan berkenaan Indonesia.

Diceritakan bahwa sehabis Sita (Dewi Sinta) diculik oleh Ravana (Rahwana) Raja Lanka (Alengka), Hanuman (Hanoman) atas perintah Rama mencari Sita hingga ke Javadwipa. Meski bukan perihal nyata, Ramayana udah menginformasikan bahwa penulisnya setidaknya udah mengenal nama Jawa (terlepas berasal dari apa ia dulu pergi sendiri ke Jawa atau cuma mengenal namanya berasal dari pelaut India yang dulu pergi ke Jawa). Yang jelas, berasal dari kitab selanjutnya kita mampu menyimpulkan bahwa Pulau Jawa merupakan daerah strategis didalam dunia perdagangan pada masanya.
Di samping Ramayana, Piagam Nalanda (berasal berasal dari Benggala, India sebelah timur) mengatakan bahwa Sriwijaya punya dua pelabuhan perlu di Selat Malaka sebagai pintu gerbang memasuki bandar-bandar lain di Indonesia. Kedua bandar itu berada di Sumatera dan Semenanjung Malaka, yakni bandar Katana di Ligor, dan berperan sebagai bandar transit. Kedua bandar itu merupakan pusat perdagangan tambang, emas, timah, hasil hutan, dan perkebunan lada, kayu gaharu, dan kelembak.
Para saudagar dan pakar geografi Arab terhitung udah menulis berkenaan keberadan Indonesia sejak abad ke-6 M. Mereka menyebut kerajaan bernama Zabaq atau Sribuza untuk Sriwijaya. Raihan Al Beruni, yang menulis sebuah buku berkenaan India, mengatakan bahwa Zabaq terdapat di sebuah pulau yang bernama Suwarndib, yang berarti “Pulau Emas“. Berita Arab lainnya menyebut Sribuza sebagai daerah yang banyak menghasilkan kayu wangi.

Kronik-kronik berasal dari Indocina terhitung menyatakan bahwa jalan perdagangan pada Indonesia, India, Cina, dan terhitung Indocina (Vietnam, Kamboja, Siam atau Thailand, dan lokasi Asia Tenggara lainnya) udah ramai sejak awal masehi. Hubungan perdagangan selanjutnya menjadi perintis pertalian yang lebih jauh: politik, agama, dan kebudayaan. Kronik Vietnam berasal dari abad ke-8 M mencatat serangan berasal dari Jawa dan “Pulau-pulau Selatan“ yang ditunaikan pasukan Syailendra berasal dari Sriwijaya pada pusat kerajaan maritim Kerajaan Chenla di Vyadhapura, Kamboja. Berita selanjutnya diperkuat oleh catatan berasal dari Champa pada abad ke-8 M, yang mencatat bahwa pasukan Jawa udah menghancurkan kuil-kuil dan berkuasa di beberapa lokasi Kampuchea (Kamboja). Bukti lainnya adalah prasasti di Nakhon Si Thammarat, Thailand, berasal dari abad ke-8 M. Prasasti itu menginformasikan udah dibangunnya sejumlah biara Buddha oleh raja Sriwijaya. Laporan mirip terdapat didalam sebuah prasasti di Kra, sebelah selatan Thailand, berasal dari abad ke-8 M. Prasasti itu melaporkan Raja Sriwijaya mendirikan sejumlah bangunan suci Buddha didalam rangka merayakan kemenangan Sriwijaya menaklukkan Semenanjung Melayu.

2. Sumber Dalam Negeri
Sementara itu, berita-berita didalam negeri berasal berasal dari prasasti (batu tulis) dan yupa. Yupa-yupa yang ditemukan di Kutai, Kalimantan Timur, prasasti-prasasti Tarumanagara di Jawa Barat, Prasasti Canggal zaman Mataram Kuno di Jawa Tengah dan Prasasti Dinoyo di Jawa Timur, ditulis didalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Selain itu, bangunan-bangunan benda-benda purbakala, seperti candi, arca, dan juga proses postingan didalam kitab-kitab kakawin terhitung menyatakan dampak Hindu-Buddha.

C.PENGARUH HINDU-BUDDHA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA
Kebudayaan merupakan wujud berasal dari peradaban manusia, sebagai hasil akal-budi manusia didalam mencukupi keperluan hidupnya baik primer, sekunder, atau tersier. Wujud kebudayaan ini lumayan beragam, mencakup lokasi bahasa, adat-istiadat, seni (rupa, sastra, arsitektur), pengetahuan pengetahuan, dan teknologi. Dan tiap tiap kebudayaan yang lebih maju tentu mendominasi kebudayaan yang berada di bawahnya. Begitu pula kebudayaan India yang bersama enteng di terima masyarakat Indonesia.
Pengaruh Hindu dan Buddha pada kehidupan masyarakat Indonesia didalam bidang kebudayaan, bersama bersama datangnya dampak didalam bidang agama itu sendiri. Pengaruh selanjutnya mampu bersifat fisik dan nonfisik. Hasil kebudayaan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia yang bersifat fisik di antaranya: arca atau patung, candi (kuil), makara, istana, kitab, stupa, tugu yupa, prasasti, lempengan tembaga, senjata perang, dan lain-lain. Sedangkan peninggalan kebudayaan yang bersifat nonfisik di antaranya: bahasa, upacara keagamaan, seni tari, dan karya sastra. Wilayah India yang lumayan banyak beri tambahan pengaruhnya pada Indonesia adalah India Selatan, kawasan yang didiami bangsa Dravida. Ini terbukti berasal dari penemuan candi-candi di India yang nyaris menyerupai candi-candi yang tersedia di Indonesia.
Begitu pula model aksara yang banyak ditemui pada prasasti di Indonesia, adalah model huruf Pallawa yang digunakan oleh orang-orang India selatan. Meskipun budaya India berpengaruh besar, bakal tetapi masyarakat Indonesia tidak serta-merta meniru begitu saja kebudayaan tersebut. Dengan kearifan lokal masyarakat Indonesia, budaya berasal dari India di terima lewat proses penyaringan (filtrasi) yang natural. Bila dirasakan cocok maka elemen budaya selanjutnya bakal diambil alih dan dipadukan bersama budaya setempat, dan sekiranya tak cocok maka budaya itu dilepaskan. Proses akulturasi budaya ini mampu dicermati pada model arsitektur, misalnya, punden berundak (budaya asli Indonesia) pada Candi Sukuh di Jawa Tengah; atau pada dinding-dinding Candi Prambanan yang memuat relief berkenaan kisah pewayangan yang memuat tokoh Punakawan; yang didalam relief manapun di India takkan ditemui.
1. Praktik Peribadatan
Pengaruh Hindu-Buddha pada aktifitas keagamaan di Indonesia tercermin hingga kini. Kalian mampu merasakannya kini di Bali, pulau yang mayoritas penduduknya penganut Hindu. Kehidupan sosial, seni, dan budaya mereka lumayan kental dipengaruhi tradisi Hindu. Jenazah seseorang yang udah meninggal kebanyakan dibakar, lantas abunya ditaburkan ke laut supaya “bersatu” ulang bersama alam. Upacara yang disebut ngaben ini sebenarnya tidak diterapkan kepada semua umat Bali-Hindu, cuma orang yang mampu secara ekonomi yang jalankan ritual pembakaran mayat (biasa golongan brahmana, bangsawan, dan pedagang kaya). Selain Bali, masyarakat di kaki Bukit Tengger di Malang, Jawa Timur, pun tetap merintis kepercayaan Hindu. Meski beberapa besar masyarakat Indonesia kini bukan penganut Hindu dan Buddha, tetapi didalam mobilisasi praktek keagamaannya tetap terdapat unsur-unsur Hindu-Buddha. Bahkan kala agama Islam dan Kristen jadi menguat, dampak selanjutnya tak hilang jadi terjaga dan lestari. Beberapa lokasi yang sebelum saat kehadiran Islam dikuasi oleh Hindu secara kuat, kebanyakan tidak mampu dihilangkan begitu saja aspek-aspek berasal dari agama pada mulanya tersebut, melainkan jadi agama barulah (Islam dan Kristen) mengadopsi beberapa unsur kepercayaan sebelumnya. Gejala ini nampak berasal dari timbulnya beberapa ritual yang merupakan perpaduan pada Hindu-Buddha, Islam, bahkan animisme-dinamisme. Contohnya: ritual Gerebeg Maulud yang tiap tiap tahun diadakan di Yogyakarta, kepercayaan pada kuburan yang mampu beri tambahan rejeki dan pertolongan, kepercayaan pada roh-roh, kebolehan alam dan benda keramat seperti keris, patung, cincin, atau gunung.
Ketika Islam masuk ke Indonesia, kebudayaan Hindu-Buddha udah lumayan kuat dan mustahil mampu dihilangkan. Yang berlangsung lantas adalah akulturasi pada ke dua agama tersebut. Kita mampu melihatnya pada acara kelahiran bayi, tahlilan bagi orang meninggal, dan nadran (ziarah). Acara-acara berperiode seperti tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, tujuh bulanan merupakan praktek kepercayaan yang tak terdapat didalam ajaran Islam atau Kristen. Perbedaan pada unsur-unsur agama yang tidak serupa dan bahkan condong bertolak belakang itu, bukanlah kendala bagi masyarakat Indonesia untuk menerima dan menyerap ajaran agama baru. Melalui kearifan lokal (local genius) masyarakat Indonesia, agama yang asalnya berasal dari luar (Hindu, Buddha, Islam, Kristen) pada pada akhirnya di terima sebagai suatu hal yang tidak “asing” lagi. Bila unsur agama selanjutnya dirasakan cocok dan tak menyebabkan pertentangan didalam masyarakat, maka ia bakal disaring terlebih dahulu lantas diambil alih untuk lantas dipadukan bersama budaya yang lama; dan sekiranya tak cocok maka unsur selanjutnya bakal dibuang. Dengan demikian, yang lahir adalah agama sinkretisme, yakni perpaduan antardua unsur agama dan kebudayaan yang tidak serupa supaya menghasilkan praktek agama dan kebudayaan baru tanpa mempertentangkan perbedaan tersebut, jadi mempertemukan persamaan antarkeduanya. Jelaslah, berasal dari dulu bangsa Indonesia udah mengenal keragaman agama dan budaya (pluralisme) tanpa wajib bertengkar.

2. Sistem Pendidikan
Sriwijaya merupakan kerajaan pertama di Indonesia yang udah menyimpan perhatian pada dunia pendidikan, terlebih pendidikan Buddha. Aktifitas pendidikan ini diadakan lewat kerjasama bersama kerajaan-kerajaan di India. Hubungan bilateral didalam bidang pendidikan ini dibuktikan lewat Prasasti Nalanda dan catatan I-Tsing.
Berdasarkan keterangan Prasasti Nalanda yang berada di Nalanda, India Selatan, terdapat banyak pelajar berasal dari Sriwijaya yang memperdalam pengetahuan pengetahuan. Catatan I-Tsing menyebutkan, Sriwijaya merupakan pusat agama Buddha yang cocok sebagai daerah para calon rahib untuk buat persiapan diri studi Buddha dan tata bahasa Sansekerta sebelum saat berangkat ke India. Di Sriwijaya, menurut I-Tsing, terdapat guru Buddha yang terkenal, yaitu
Sakyakerti yang menulis buku undang-undang berjudul Hastadandasastra. Buku selanjutnya oleh I-Tsing dialihbahasakan ke didalam bahasa Cina. Selain Sakyakerti, terdapat pula rahib Buddha ternama di Sriwijaya, yakni Wajraboddhi yang berasal berasal dari India Selatan, dan Dharmakerti. Menurut seorang penjelajah Buddha berasal dari Tibet bernama Atica, Dharmakerti punya tiga orang murid yang terpandang, yakni Canti, Sri Janamitra, dan Ratnakirti. Atica sempat beberapa lama tinggal di Sriwijaya dikarenakan menghendaki menuntut pengetahuan Buddha. Ketika itu, agama Buddha klasik nyaris lenyap disebabkan aliran Tantra dan agama Islam jadi berkembang di India, supaya ia pilih pergi ke Sriwijaya untuk studi agama.
Pada masa berikutnya, nyaris di tiap tiap kerajaan terdapat asrama-asrama (mandala) sebagai daerah untuk studi pengetahuan keagamaan. Asrama ini kebanyakan terdapat di lebih kurang komplek candi. Selain studi pengetahuan agama, para calon rahib dan biksu studi pula filsafat, ketatanegaraan, dan kebatinan. Bahkan istilah guru yang digunakan oleh masyarakat Indonesia sekarang berasal berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti “kaum cendikia”.

3. Bahasa dan Sistem Aksara
Bahasa merupakan unsur budaya yang pertama kali diperkenalkan bangsa India kepada masyarakat Indonesia. Bahasalah yang digunakan untuk menjalin komunikasi didalam proses perdagangan antar ke dua pihak, tentunya tetap didalam taraf lisan. Bahasa yang dipraktikkan pun adalah bahwa Pali, bukan Sansekerta dikarenakan kaum pedagang mustahil pakai bahasa kitab tersebut. Bahasa Pali atau Pallawa merupakan aksara turunan berasal dari aksara Brahmi yang dipakai di India selatan dan mengalami kejayaan pada masa Dinasti Pallawa (sekitar Madras, Teluk Benggali) abad ke-4 dan 5 Masehi. Aksara Brahmi terhitung turunkan aksara-aksara lain di lokasi India, yakni Gupta, Siddhamatrka, Pranagari, dan Dewanagari. Aksara Pallawa sendiri lantas menyebar ke Asia Tenggara, terhitung Indonesia, dan tertulis pada prasasti-prasasti berbahasa Melayu Kuno zaman Sriwijaya. Istilah pallawa pertama kali dipakai oleh arkeolog Belanda, N.J. Krom; sarjana lain menyebutnya aksara grantha.
Praktik bahasa Sansekerta pertama kali di Indonesia mampu di lacak pada yupa-yupa peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Huruf yang dipakai adalah Pallawa. Dikatakan bahwa di kerajaan selanjutnya terdapat seorang raja bernama Kudungga, punya anak yang bernama Aswawarman, dan terhitung punya cucu Mulawarman.

Menurut para pakar bahasa, Kudungga dipastikan merupakan nama asli Indonesia, namun Aswawarman dan Mulawarman udah pakai bahasa India. Penggantian nama selanjutnya kebanyakan ditandai bersama upacara keagamaan. Pengaruh agama Hindu didalam segi bahasa pada akhirnya menjadi formal bersama timbulnya bahasa Jawa dan Melayu Kuno dan juga bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia yang banyak sekali menyerap bahasa Sansekerta. Beberapa karya sastra Jawa ditulis didalam bahasa Jawa Kuno bersama cara mengonversikan atau beri tambahan (menggubah) karya sastra yang dibikin di India. Selain Sansekerta, bahasa Pali, Tamil, dan Urdu atau Hindustani (digunakan di Pakistan dan sebagain India) pun memperkayai kosakata masyarakat Indonesia. Namun, pada perkembangannya Sansekertalah bahasa yang paling berpengaruh dan dipakai hingga kini oleh orang Indonesia. Bahasa Sansekerta merupakan bahasa tulisan. Bahasa ini tertulis didalam prasasti, yupa, kitab suci, kitab undang-undang (hukum), karya sastra. Maka berasal dari kata-katanya mampu lebih abadi dan dipertahankan. Pengaruh selanjutnya lantas dilanjutkan bersama proses penyerapan bunyi. Kadang kita tidak mengetahui bahwa bahasa yang kita pakai selanjutnya merupakan serapan berasal dari bahasa Sansakerta. Perubahan bunyi pada serapan ini berlangsung dikarenakan logat dan dialek tiap tiap suku-bangsa berbeda. Makna awalannya pun beberapa udah mengalami perubahan: tersedia yang meluas dan tersedia yang menyempit. Namun, adapula beberapa kata yang maknanya belum bergeser, contohnya: tirta berarti air; eka, dwi, tri berarti satu, dua, tiga; sementara berarti sementara atau mampu terhitung bencana.
Berikut ini kalimat Indonesia serapan berasal dari kalimat Sansekerta:
(a) sayembara, berasal dari silambara
(b) bentara, berasal dari avantara
(c) harta, berasal dari artha
(d) istimewa, berasal dari astam eva
(e) durhaka, berasal dari drohaka
(f) gembala, berasal dari gopala
(g) karena, berasal dari karana
(h) bahagia, berasal dari bhagya
(i) manusia, berasal dari manusya
10. senantiasa, berasal dari nityasa
(Sumber: menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI)

Mengenai pertumbuhan aksara, di Indonesia terdapat beberapa model aksara yang merupakan turunan berasal dari aksara Pallawa. Di Jawa tersedia aksara Kawi, aksara Kawi ini pada pertumbuhan selanjutnya turunkan aksara Hanacaraka atau Ajisaka yang digunakan untuk bahasa Jawa, Sunda, dan Bali. Adapula prasasti zaman Mataram di Jawa Tengah bagian selatan yang pakai aksara Pranagari yang umurnya lebih tua berasal dari aksara Dewanagari. Sementara itu, di lokasi Sumatera Utara (dengan dialek Toba, Dairi, Karo, Mandailing, dan Simalungun) tersedia aksara Batak, namun di daerah Kerinci, Lampung, Pasemah, Serawai, dan Rejang terdapat aksara Rencong. Sementara itu, di daerah Sulawesi bagian selatan tersedia aksara Bugis dan Makassar.

Dari pertumbuhan aksara-aksara turunan Pallawa, kita mampu memperkirakan lokasi mana saja di Indonesia yang dampak budaya Indianya lebih kental, yakni Jawa, Sumatera, dan beberapa Sulawesi. Sedangkan daerah-daerah lainnya di Indonesia tak begitu dipengaruhi budaya India, bahkan tersedia daerah yang mirip sekali tak tersentuh budaya Hindu-Buddhanya. Mengenai aksara Hanacaraka, terdapat sebuah legenda yang terkait bersama nama Ajisaka. Ajisaka merupakan cerita rakyat yang berkembang secara lisan, terlebih hidup di masyarakat Jawa dan Bali. Tokoh, Ajisaka, terkait bersama bangsa Saka berasal dari India barat laut. Sebagian masyarakat Jawa yakin bahwa Ajisaka dahulu dulu hidup di Jawa dan berasal berasal dari India. Mereka terhitung yakin bahwa Ajisakalah yang menciptakan aksara Jawa dan kalender Saka.

4. Seni Arsitektur dan Teknologi
Sebelum unsur-unsur Hindu-Buddha masuk, masyarakat Indonesia udah mengenal teknologi membuat bangunan berasal dari batu pada masa Megalitikum. Mereka udah pintar membangun menhir, sarkofagus, peti (kuburan) kubur, patung sederhana, dan benda-benda berasal dari batu lainnya. Setelah berkenalan bersama seni arsitektur Hindu-Buddha, mereka lantas mengadopsi teknologinya. Jadilah candi, stupa, keraton, makara yang punya seni hias (relief) dan arsitekturnya yang lebih beraneka.

Info Tambahan;
Alkisah, Ajisaka singgah berasal dari negeri Atas Angin ke Jawa, yang kala itu Jawa sedang dikuasai raksasa buas bernama Dewatacengkar. Tiap hari ia minta di sediakan seorang pemuda untuk disantap. Ketika semua pemuda udah habis disantap, datanglah Ajisaka bersama dua orang pengiringnya. Setelah mendengar keluhan rakyat, Ajisaka bersedia dijadikan santapan raksasa Dewatacengkar. Sebelum berangkat menemui sang raksasa, Ajisaka menyimpan keris pusakanya di suatu daerah dan menyuruh salah seorang pengikutnya untuk merawat keris tersebut. Ia berpesan supaya tak seorang pun boleh menyita keris tersebut, kecuali Ajisaka sendiri. Kepada Dewatacengkar, Ajisaka bersedia menjadi santapan asal raksasa selanjutnya sudi menghadiahi Ajisaka tanah selebar kuncir kepala yang dipakainya. Setelah raksasa menyanggupi, Ajisaka melewatkan kuncir kepalanya lantas meletakkannya di atas tanah. Tak diduga, kuncir kepala itu ternyata melebar dan terus melebar supaya Dewatacengkar wajib menyingkir dan terus mundur ke selatan hingga jatuh ke jurang di pantai selatan Jawa. Raja raksasa itu pun mati, Ajisaka lantas menjadi raja.Setelah menjadi raja, Ajisaka teringat bakal kerisnya, lantas ia mengutus salah seorang pengiringnya untuk menyita keris. Setelah hingga di daerah penyimpanan keris, si penjaga, menampik menyerahkan keris dikarenakan udah berjanji bahwa Ajisakalah yang boleh mengambil, bukan pengiringnya. Terjadilah perkelahian pada dua pengiring Ajisaka selanjutnya hingga keduanya tewas. Mereka mati didalam rangka yang sama: menuruti perintah majikannya. Tragedi itu membuat Ajisaka bersedih. Untuk memperingati dan mengenang ke dua pengiring setianya itu, ia menciptakan 20 buah aksara, yang kini dikenal sebagai huruf Jawa, yaitu: ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja, ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga. Bila dibaca beruturan maka bakal terbentuk kalimat yang artinya: tersedia utusan (hana caraka), berlangsung perselisihan (data sawala), mirip mirip sakti (padha jayanya), tewas keduanya (maga bathanga).
a. Candi
Candi berasal berasal dari frase candika graha yang berarti kediaman
Betari Durga. Durga ini disembah terlebih oleh umat Buddha. Dalam dunia pewayangan di Indonesia, Durga merupakan istri Dewa Siwa yang dikutuk berasal dari berwajah cantik menjadi raksasa. Yang pertama mendirikan candi di India diduga adalah umat Buddhis. Ini nampak berasal dari temuan candi tertua di sana yang dibangun pada abad ke-3 SM. Pada pertumbuhan berikutnya, candi pun didrikan oleh umat Hindu. Awalnya, candi didirikan sebagai daerah penyimpanan abu hasil pembakaran jenazah raja. Karena itu, di candi yang disebut pripih kerap ditemukan sebuah wadah penyimpanan abu jenazah.
Di atas abu jenazah selanjutnya terpampang arca raja bersangkutan. Disimpan pula patung dewa tertentu, kebanyakan dewa ini dipuja oleh almarhum yang bersangkutan. Pada dinding-dinding candi kebanyakan terdapat deretan relief yang mengisahkan cerita-cerita Mahabharata atau Ramayana atau kisah sastra lainnya. Pada candi Buddhis kebanyakan terdapat relief seputar kehidupan Siddharta. Fungsi candi selanjutnya berkembang menjadi daerah sembahyang (berasal berasal dari frase “sembah hyang”) untuk dewa-dewi. Jawa adalah daerah yang paling banyak terdapat candi, disusul oleh Sumatera. Ini menandakan bahwa pertumbuhan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha berlangsung lebih pesat di Jawa, terlebih di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai pusat-pusat pemerintahan pada masanya. Berdasarkan arsitektur dan daerah dibangunnya, candi-candi di Indonesia mampu dibagi atas: candi yang terdapat di Jawa Tengah (bagian selatan dan utara), Jawa Timur, dan lain-lainnya seperti di Sumatera, Bali, dan Jawa Barat.
Bentuk candi-candi di Jawa Tengah di bagian selatan tidak serupa bersama yang tersedia di bagian utara. Namun demikian, secara umum (Soetarno, 2003) candi-candi yang tersedia di ke dua lokasi selanjutnya punya kesamaan, yaitu:
(1) Bentuk bangunan tampak lebih gemuk, terbuat berasal dari batu andesit.
(2) Atapnya bersifat undak-undakan dan puncaknya bersifat stupa atau ratna.
(3) Pada pintu dan relung terdapat hiasan bermotif makara.
(4) Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya bercorak naturalis (dua dimensi).
(5)Letak candi utama terdapat di tengah-tengah halaman komplek candi muka candi menghadap ke arah timur.

Baca Juga :