Mengenal Tentang Asal-usul Shakuntala

Mengenal Tentang Asal-usul Shakuntala

Mengenal Tentang Asal-usul Shakuntala

Mengenal Tentang Asal-usul Shakuntala
Mengenal Tentang Asal-usul Shakuntala

Pada suatu hari

Prabu Wismamitra sedang melakukan tapabrata menjauhkan diri dari kehidupan duniawi. Ia melakukan tapabratanya dengan sangat kuat dan khusyuk, sehingga menimbulkan kekawatiran Batara Indra, kalau-kalau ia nanti akan kalah dalam hal melakukan tapabrata dan akan menggulingkannya dari tahtanya di Indraloka atau Kahyangan. Maka Batara Indra mencoba menggodanya dengan mengutus Betari Menaka.

Betari Menaka sebenarnya merasa gentar juga mendapat perintah Batara Indra untuk menggoda Prabu Wismamitra. Ia mengatakan, ”Paduka Batara, paduka mengetahui bahwa Prabu Wismamitra memiliki ketekunan dan perangai yang keras, sehingga apa yang dilakukan atau diinginkannya, tidak ada yang boleh mengganggu atau menghalanginya. Dengan kesaktian yang dimilikinya, ia telah membuat banyak dewa khawatir. Apalagi hamba, yang paduka perintahkan untuk mengganggu tapabratanya, hamba pun sebenarnya takut untuk menggoda tapabratanya.

Apalagi dialah yang menyebabkan Wasistha menderita kesedihan yang mendalam, karena melihat anak-anaknya mati sebelum mencapai dewasa. Dia dilahirkan sebagai Ksatria, tetapi karena kebajikan dharmanya dan kesaktiannya yang mendalam, menjadikan dia sebagai brahmana. Dia mampu membakar tiga dunia, neraka, bumi, dan kahyangan dengan kesaktiannya.

Karena itu paduka Batara

hamba mohon agar Maruta, sang Dewa Angin, diperkenankan untuk membantu hamba, saat hamba menggoda Prabu Wismamitra. Biarlah dewa Angin menebarkan wewangian yang memabukkan dan pada saat hamba bermain-main di dekat Prabu Wismamitra. Biarlah  dewa Angin juga berkenan menghembuskan angin yang kencang untuk menyingkapkan kain dan pakaian hamba. Dan biarlah Dewi Cinta pun juga paduka utus untuk membantu hamba.” Batara Indra menyanggupi permohonan Betari Menaka.

Betari Menaka kemudian turun ke bumi dengan ditemani Betari Urwashi, Betari Purwachitti, Betari Sahajanya, Betari Wiswachi dan Betari Gritachi. Betari Menaka kemudian mendatangi tempat pertapaan prabu Wismamitra. Pada saat khusyuk-khusyuknya prabu Wismamitra bertapa, tiba-tiba ia melihat kedatangan bidadari Menaka. Sesuai dengan tugas yang diembannya, Dewi Menaka mulai merayu dan menggoda tapabrata prabu Wismamitra.

Pada saat itu

Dewa Angin menghembuskan angin yang cukup kencang, sehingga tanpa sengaja kain yang dikenakan bidadari Menaka tiba-tiba tersingkap oleh hembusan angin itu. Melihat betis bidadari Menaka yang begitu putih, halus dan mulus, Prabu Wismamitra sampai tak dapat mengendalikan dirinya. Hembusan angin tersebut ternyata semakin kencang, sehingga tidak hanya menyingkapkan kain yang menutupi betis Batari Menaka saja, tetapi juga menerbangkan semua kain yang menutupi tubuh Betari Menaka, sehingga bagian kaki hingga bagian dada dengan payudara yang sangat mulus tampak menonjol dengan sangat indahnya.

Betari Menaka berusaha mengejar kain yang diterbangkan angin tersebut. Prabu Wismamitra yang melihat semua kejadian itu, tidak lagi mampu untuk meneruskan tapabratanya. Payudara yang menonjol indah dan lekuk-lekuk tubuh Betari Menaka yang demikian indah, dibalut dengan kulit yang begitu putih, halus dan mulus, begitu jelas terpampang di depan matanya, sehingga mampu merontokkan tekadnya untuk menjalankan tapabratanya. Ia pun takluk kepada keinginannya untuk segera menghisap madu Batari Menaka.

Tapabrata yang dilakukan menjadi terhenti dan terlupakan sejenak. Ia kemudian hidup bersama dan menikah dengan Betari Menaka. Setelah beberapa waktu berlalu, mengandunglah Dewi Menaka dan ketika masa kelahiran sang bayi sudah mendekat, pergilah ia ke tepi sungai Malini, di lembah gunung Himalaya. Di sanalah Dewi Menaka melahirkan seorang bayi wanita yang cantik dan kemudian diberi nama Syakuntala.

Setelah kelahirannya, sang jabang bayi ini ditinggalkannya di tepi sungai Malini, dan Betari Menaka segera terbang kembali ke Kahyangan. Meskipun kelihatannya kejam dan tak bertanggung jawab, tetapi karena sudah suratan dewata, Syakuntala tetap dapat bertahan hidup.

Ketika Begawan Kanwa sedang berjalan santai di sungai Malini untuk memetik bunga, ia sangat terkejut  melihat ada anak bayi yang sedang disuapi oleh burung-burung Sakuni, penghuni hutan, dengan penuh kasih sayang. Maka diambillah Syakuntala dan dibawanya pulang ke pertapaan serta diasuhnya bagaikan anaknya sendiri.

Demikianlah sang brahmana bercerita kepada Prabu Dushwanta, tentang asal usul Syakuntala. Melihat paras Syakuntala yang sedemikian cantiknya, Prabu Dushwanta merasa sangat tertarik dan ingin segera untuk menikahinya. Karena sudah terkena panah asmara Syakuntala, Prabu Dushwanta yang sudah tak dapat menahan diri lagi, berkata, ”Syakuntala, putri begawan suci, maukah engkau menjadi isteriku? Biarlah seluruh kerajaanku aku serahkan kepadamua.”

Pada awalnya Syakuntala menolak keinginan sang Prabu, karena harus minta restu terlebih dahulu dari resi Kanwa, yang pada saat itu tidak ada di rumah. Tetapi karena bujukan dan rayuan Prabu Dushwanta yang terus menerus, luluhlah pertahanan hati Syakuntala. Syakuntala akhirnya tak kuasa untuk menolaknya dan menjawab, ”Ya Tuanku, jika pernikahan dengan upacara Gandharwa ini tidak menyalahi ajaran-ajaran kitab suci, hamba bersedia menjadi isteri Paduka.

Meskipun demikian hamba ingin mengajukan syarat kepada Paduka, kelak apabila dari pernikahan kita ini lahir seorang putra, hendaklah ia menjadi ahli waris kerajaan sebagai pengganti Paduka raja. Jika sang paduka berkenan, hamba bersedia menikah dengan paduka raja saat ini juga.”

Karena diliputi rasa cinta yang sangat besar, Sang Raja pun mengganggukkan kepala dan menyetujui semua keinginan Syakuntala. Tanpa berkata-kata lagi, dipeluknyalah Syakuntala. Tidak lama kemudian dilakukan pernikahan gandharwa wiwaha, di pertapaan Begawan Kanwa. Sambil bergandengan tangan, mereka mengelilingi api suci sambil mengucapkan doa-doa. Dengan demikian sahlah hubugan mereka sebagai suami-isteri. Mereka pun bercinta, berasyik masyuk. Prabu Dushwanta tinggal beberapa lama di pertapaan.

Setelah puas bercinta, berasyik masyuk, Prabu Dushmanta kemudian berpamitan, mohon diri, pulang ke istana untuk melanjutkan tugas kewajibannya sebagai seorang raja. Sebelum meninggalkan Syakuntala, Raja Dushwanta kembali mengingatkan berjanji bahwa kelak ia akan kembali lagi ke pertapaan untuk menjemput Syakuntala dan anak yang dilahirkannya, serta membawanya ke istana Hastinapura.

 

(Sumber: https://thesrirachacookbook.com/)